Salah Strategi, Pelaku Usaha Wisata di Bali Babak Belur

 


Denpasar - Sejumlah pelaku usaha sektor pariwisata di Bali mengaku salah strategi dengan meminjam uang dalam jumlah cukup besar untuk mengembangkan usahanya sebelum masa pandemi terjadi.


Dikarenakan pada 2019 lalu tren pariwisata di Pulau Dewata sangat pesat. Sehingga membuat sejumlah pengusaha optimis dan berlomba lomba mengajukan kredit dengan jumlah tidak sedikit untuk mengembangkan bisnisnya.


Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati (Cok Ace) menyatakan, bila kenyataan di 2021 ini semua berbalik berubah. Yang mana kondisi pengusaha Bali saat ini rata-rata sudah bangkrut alias babak belur. Terlebih lagi setelah beberapa kali pelaku usaha pariwisata mendapatkan angin segar dari pemerintah tentang rencana pembukaan pariwisata. 


Bahkan wacana itu, membuat pelaku usaha pariwisata terus menambah pinjaman untuk membenahi tempatnya. Dengan harapan bila pariwisata mulai menggeliat maka usahanya bisa bergairah menyambut kedatangan wisatawan yang diprediksi ramai di bulan Desember.


"Yang terjadi, harapan itu sirna setelah muncul kebijakan pengetatan pintu masuk di akhir tahun dengan pemberlakuan syarat Swab PCR," ujar Wagub Cok Ace, Sabtu (28/8) di Denpasar. 


Selanjutnya, vaksinasi yang gencar dilaksanakan di Pulau Dewata kembali membangkitkan harapan para pengusaha. Namun harapan itu kembali terhempas seiring dinamika C-19 yang tak bisa diprediksi. Sehingga pemerintah kembali menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).


"Kami memahami, tetapi ketika ekonomi dibuka kasus C-19 cenderung naik. Sebaliknya, ketika C-19 bisa dikendalikan melalui kebijakan pembatasan aktivitas, ekonomi nyungsep. Hukum sebab akibatnya seperti itu, tak bisa putus satu sama lain," ujarnya.


Wagub Bali menambahkan, jika dianalisa lebih jauh, keterpurukan ekonomi juga bisa berdampak pada meningkatnya jumlah kasus terkonfirmasi positif C-19. Jelasnya, jika masyarakat mengalami kesulitan ekonomi, otomatis imunnya akan turun karena kurangnya asupan gizi.


"Dimana faktor ini tak bisa diabaikan karena sangat berkaitan," tutupnya.


Sementara itu, Dewan Pimpinan Daerah Asosiasi Pengusaha Indonesia (DPD Apindo) Bali I Nengah Nurlaba, berharap agar pariwisata di Bali bisa cepat dibuka. Setidaknya pada September mendatang, tentunya dengan langkah-langkah riil pembukaan bisa dilakukan, meskipun secara bertahap.


"Karena hanya lewat pariwisata, perekonomian Bali yang terpuruk ini secara perlahan bisa dipulihkan," katanya.


Lebih lanjut, pihaknya sangat prihatin dengan kondisi perekonomian Bali saat ini yang terpuruk akibat pandemi. Namun tidak ada jalan lain selain mendukung kebijakan pemerintah dalam penanggulangan pandemi. 


"Kita berdoa agar tetap bisa menjaga rasa optimisme. Semoga pada September depan pariwisata Bali bisa dibuka kembali," tandasnya. (Hms). 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.