Lingkar Studi Papua Dorong Literasi Kritis Kaum Muda di Nabire

 


Nabire — Lingkar Studi Papua (LSP) terus mendorong penguatan kesadaran kritis kaum muda Papua melalui kegiatan lapak baca dan diskusi bersama. Kegiatan tersebut digelar di Warkop Kedai Titik Nol, Wonorejo, Nabire, Papua Tengah.


Kegiatan ini menjadi ruang alternatif bagi kaum muda Papua untuk membaca, berdiskusi, serta menganalisis situasi sosial-politik Papua yang dinilai masih berada di bawah tekanan kapitalisme, kolonialisme, dan militerisme.


Salah satu peserta diskusi, Yikai M, menegaskan bahwa literasi memiliki peran fundamental dalam membangun kesadaran dan keberpihakan kepada rakyat.


“Literasi itu nyawa. Literasi membuat seseorang peka melihat apa yang terjadi di sekitarnya dan menentukan apa yang harus dilakukan. Tanpa literasi, manusia seperti tidak bernyawa karena tidak mampu membaca realitas penindasan yang sedang berlangsung,” ujar Yikai.


Menurut dia, membaca dan berdiskusi bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan fondasi penting dalam membangun keberanian untuk berpikir dan bertindak di tengah situasi Papua saat ini.


Pandangan serupa disampaikan Eko Vinsensius yang menilai lapak baca sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kapitalisme yang mengontrol pengetahuan demi kepentingan modal.


“Dalam sistem kapitalisme, ilmu pengetahuan dan sains dikunci untuk kepentingan akumulasi modal. Membaca menjadi cara untuk membuka kunci tersebut, membaca pola penindasan, dan membangun cara berpikir kritis. Diskusi adalah senjata untuk mematahkan narasi penguasa yang dominan,” kata Eko.


Ia menilai lapak baca LSP menjadi ruang penting bagi kaum muda Papua untuk membangun manuver pemikiran menuju masyarakat yang lebih adil dan berdaulat atas pengetahuan.


Sementara itu, Abbi Douw menekankan bahwa perubahan sosial tidak mungkin terjadi tanpa pemahaman yang utuh terhadap sejarah, kondisi saat ini, dan arah masa depan.


“Tanpa pemahaman yang menyeluruh, mustahil sebuah perubahan dapat terjadi. Jalan menuju pemahaman itu hanya dapat ditempuh melalui membaca, menganalisis, berdiskusi, dan mengaitkannya secara langsung dengan realitas masyarakat,” ujar Abbi.


Menurut Abbi, aktivitas literasi perlu terus dikembangkan sebagai proses berkelanjutan agar kaum muda Papua tidak terputus dari akar persoalan yang dihadapi oleh masyarakatnya sendiri.


Melalui lapak baca dan diskusi tersebut, Lingkar Studi Papua berharap dapat membangun tradisi literasi kritis yang membumi, sekaligus menjadi ruang konsolidasi pemikiran kaum muda Papua dalam menghadapi berbagai bentuk penindasan struktural.


Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa membaca dan berdiskusi bukan semata-mata soal pengetahuan, melainkan bagian dari upaya membangun kesadaran, keberanian, dan masa depan Papua yang lebih adil.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama